- Advertorial
- 5 bulan yang lalu
Puluhan jemaah Batal Umroh Ngamuk Minta Uang Kembali, Direktur Travel TRG: Tidak Ada
- Reporter: LM Ismail
- Editor: Dul
- 21 Feb 2026
- 8413 Kali Dibaca
Flayer tarif retribusi sampah bagi ASN dan P3K yang dikeluarkan Pemkot Kendari. Foto: Pemkot Kendari
KENDARI, KERATONNEWS.CO.ID – Puluhan jemaah korban biro perjalanan umrah Tajak Ramadhan Grup (TRG) mendatangi kantor Polresta Kendari, Sabtu (21/2/2026). Kedatangan mereka dipicu kegagalan proses mediasi terkait pengembalian dana umrah yang sebelumnya difasilitasi pihak kepolisian.
Pantauan di Mapolresta Kendari, para jemaah yang mayoritas ibu-ibu awalnya mengikuti mediasi di salah satu ruangan. Mereka meminta kepastian soal pengembalian dana (refund) yang telah disetorkan kepada pihak TRG. Namun, suasana berubah tegang setelah owner TRG Kendari tidak dihadirkan dalam proses mediasi tersebut.
Merasa tidak mendapatkan kejelasan, para jemaah kemudian keluar dari ruang mediasi dan bergerak menuju ruang Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim). Di lokasi tersebut, owner TRG Kendari, Hamra, diketahui berada bersama keluarganya. Para korban mendesak agar bisa bertemu langsung dan mendengar penjelasan terkait nasib dana mereka.
Situasi sempat ricuh ketika jemaah tidak diberi akses untuk bertatap muka. Beberapa di antaranya merangsek masuk ke ruangan Reskrim sambil menyuarakan tuntutan agar pihak TRG dihadirkan dan memberikan penjelasan secara terbuka.
Kuasa hukum korban, Supriadi, mengatakan kliennya hanya menginginkan transparansi terkait dana jemaah yang jumlahnya mencapai Rp11 miliar.“Kami hanya ingin bertemu dan mendengar langsung penyampaiannya. Uang jemaah Rp11 miliar itu dikemanakan, tidak kami apa-apakan,” ujar Supriadi di Mapolresta Kendari.
Ia juga meminta aparat kepolisian bersikap netral dalam penanganan perkara tersebut.“Saya minta kepada teman-teman kepolisian, jangan orang yang diduga melakukan pelanggaran hukum dilindungi di dalam,” tegasnya.
Menurut Supriadi, saat ini ia mendampingi sekitar 400 orang korban TRG dengan total kerugian mencapai Rp11 miliar. Meski demikian, para jemaah masih membuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan.
“Saya dampingi kurang lebih 400 klien dengan total Rp11 miliar. Ini masih kita atur secara kekeluargaan, masih mau dikembalikan atau tidak,” katanya.
Dalam suasana emosi, perwakilan jemaah juga sempat meminta Kapolresta Kendari untuk menemui mereka secara langsung.“Mana Kapolres? Kami minta Kapolres keluar. Kenapa dilindungi? Kami ingin mendengar langsung,” ujar salah seorang perwakilan korban.
Sementara itu, Direktur Travel TRG, Gede, merespon pertanyaan dana para korban yang belum memiliki jadwal berangkat, ia mengatakan dana tersebut sudah tidak ada. Bahkan ia menyarankan untuk melaporkan ke pihak berwajib bila ada yang merasa keberatan.
"Tidak ada. Kalau memang ada yang keberatan bisa melakukan pelaporan," ungkapnya dengan santai.
Hingga berita ini diturunkan, proses mediasi belum menghasilkan kesepakatan, sementara para jemaah masih menunggu kepastian terkait pengembalian dana umrah yang telah mereka setorkan. (B)